3.5.26

Cerita Puang Manaek - Asal mula berdirinya Tongkonan Layuk Nonongan

· · , , , , , ,

Kategori : Cerita Rakyat

Judul asli: Cerita Polopadang dan Manaek
Oleh        : L.T. Tangdilintin

Dikisahkan kembali oleh : Admin ACT

Deskripsi singkat:  Cerita Polopadang dan Manaek ini adalah suatu cerita yang populer di daerah adat Pekamberan atau Padang di Ambe'i, bercerita tentang penyerahan hak kesulungan dari Polopadang kepada adik perempuannya Manaek. 


Polopadang dan Manaek adalah dua orang bersaudara seibu. Ibu mereka bernama Puang Ambun ri Kesu'. Ayah Polopadang bernama Pabane' sedangkan ayah Manaek bernama Puang Mora atau Puang Pali'bulaan.

Bahwa kedua orang bersaudara ini lahir dari ibu Puang Ambun ri Kesu' - cucu dari Manurun di Langi'.

Ayah Polopadang yang bernama Pabane' adalah seorang ahli pikir Toraja. Sejak Pabane' meninggal dunia, ia digantikan oleh Polopadang yang adalah anak sulungnya sebagai tokoh filsafat Toraja yang ajarannya banyak diwarisi oleh masyarakat Toraja saat ini.

Cerita dimulai ketika suatu hari Polopadang pergi mencari ikan di sawah, dengan cara mengeringkan kolam sawah dengan menimba airnya keluar. Polopadang tidak disertai siapapun dari hambanya, hanya seekor anjing kesayangannya yang diberinya nama Buriko' turut bersamanya.

Karena letak sawah itu agak jauh dari rumahnya di Kesu', memakan waktu  lumayan lama berjalan kaki. Polopadang di sawah, terus-menerus menimba air tanpa dibantu orang lain. Karena ukuran kolam sawah tersebut luas maka penyelesaiannya pun lama.

Setelah berhasil mengeringkan kolam, ia mulai mencari ikan di celah-celah batu dan penampang sawah. Tiba-tiba Polopadang berteriak dengan sangat keras dan mengagetkan, karena gelangnya tersangkut di dalam lobang batu dan menyebabkan ia tidak bisa menarik tangannya keluar. Dengan susah payah dia terus berusaha, tetapi tidak berhasil dan sambil berteriak meminta tolong, namun tidak ada yang mendengarnya. Tidak ada seorangpun yang kelihatan di sekitar tempat itu.

Polopadang sedang mencari ikan di antara celah batu di sawah

Anjingnya yang bernama Buriko', terkejut ketika mendengar tuannya berteriak di tengah sawah. Anjing yang setia itu memahami kesulitan yang dialami Polopadang, dan segera pergi berlari meninggalkan tempat itu menuju ke rumah Polopadang untuk mencari bantuan. 

Tiba di rumah, anjing tersebut meloncat-loncat dan menggonggong mendekati Puang Manaek yang sedang duduk sibuk menyelesaikan tenunannya. 

Manaek sedang menenun kain - didatangi Buriko'

Manaek tidak mengetahui apa maksud dari anjing itu, tetapi karena terus menerus mengorek kaki Manaek dengan dibarengi gonggongan, lalu sebentar berlari dan kembali lagi, maka mulailah Manaek sadar dan teringat akan saudaranya Polopadang yang pergi ke sawah sore tadi. 

Manaek berpikir sebentar dan mengambil kesimpulan bahwa tentu ada kesulitan yang menimpa kakaknya-Polopadang. Setelah terdiam beberapa saat, ia ingat lagi pesan ayah dan ibu-nya bahwa jika ada kesulitan yang dihadapi, pergunakan baju sakti pusakanya dan baju kebesarannya yang ditinggalkan sebagai warisan untuk penggantinya yaitu Polopadang.

Manaek lalu bangkit berdiri dan berlari ke atas rumah, ia membuka peti pusaka, mengambil baju keramat tersebut. Kemudian ia keluar rumah dan berlari lagi mengikuti Buriko' di depannya yang menuntunnya menuju tempat dimana Polopadang berada saat itu.

Setelah sampai di sawah, Manaek langsung melihat saudaranya Polopadang sedang berteriak meminta tolong kepadanya. Sesaat ia melihat kondisi Polopadang dan mengetahui bahwa tangan kakaknya itu tersangkut di dalam lubang batu.

Manaek lalu turun ke sawah dan mendekati kakaknya, ia tegak berdiri dan dengan lantang berkata sambil mengangkat baju pusaka yang ia bawa tadi, "Inde mana' mala'bi'ku, pepasanna to padadianku, ma'kadako tang sala-sala, ma'gau'ko tang kale-kalean" yang artinya: "Ini pusaka saktiku, seperti kata orangtuaku, berkata dan berbuatlah yang tidak salah".

Setelah berkata demikian, Manaek lalu mengibaskan baju pusaka tersebut pada permukaan dimana lubang batu tersebut ada. Dan tiba-tiba saja tangan Polopadang sudah terbebas dan lepas dari lobang batu itu. Polopadang sangat lega, dan ia kemudian beranjak naik ke atas pematang, gembira mendapati dirinya tanpa cedera sedikit pun.

Manaek pun gembira melihat kakaknya dalam kondisi selamat. Polopadang mengucapkan terima kasih yang sangat dalam kepada adiknya, berkat usaha Manaek yang telah membantunya terlepas dari kesulitan melalui baju pusaka sakti negeri Kesu'.

Karena hari sudah mulai gelap, Manaek dan Polopadang bersama dengan Buriko' anjingnya segera kembali ke rumah mereka di Tongkonan Kesu'.

Setibanya di rumah Tongkonan Kesu', Polopadang berkata kepada adiknya-Manaek, katanya,"Bahwa kasih sayangmu sudah membuktikan padaku, dan sudah menjadi keputusanku saat ini, bahwa tiba saatnya aku akan menyerahkan hak Kapuangan yang selalu diberi kepada anak sulung, sekarang kuserahkan kepadamu. Selanjutnya, ambillah baju sakti pusaka kita itu sebagai tanda bahwa engkau mulai saat ini akan tetap memegang gelar "Puang" dan menyandang tanda kebesaran nenek moyang kita. Aku akan tetap di sini sebagai penguasa Kesu', untuk memelihara hak dan kewajiban serta warisan dari nenek moyang kita."

Manaek terkejut, setelah mendengar kata-kata kakaknya-Polopadang, lalu berkata,"Aku tidak dapat menerimanya, aku takut berdosa dan melanggar hukum adat nenek moyang kita dari Puang ri Kesu'." Tetapi dijawab oleh Polopadang,"Jangan engkau takut, nanti kita akan sahkan dengan upacara untuk permohonan kepada dewa dan leluhur, karena hal itu sudah merupakan keputusan kata hati saya, yang mendapat petunjuk dari leluhur kita."

Sejak saat itu, Manaek yang sudah bergelar "Puang" dan disebut Puang Manaek berencana untuk meninggalkan Tongkonan Kesu' dan pergi ke sebelah barat negeri bernama Nonongan dan membangun "Tongkonan" yang kemudian hari dikenal sebagai Tongkonan Layuk Nonongan. Sampai sekarang Tongkonan tersebut masih tetap kokoh berdiri dan menjadi salah satu Tongkonan yang dihormati oleh keluarga-keluarga besar orang Toraja saat ini.

Puang Manaek mendirikan Tongkonan Layuk Nonongan

Puang Manaek yang telah mendapatkan hak kesulungan itu lalu bergelar "Puang To Matasak Sikambi Suke di Bonga Unnesungngi Bubun di Rangkang" dengan tugas "Pentionganan", artinya: "Puang yang memegang Kemuliaannya yang tetap di hormati dengan kewajiban sebagai Pelindung rakyat."

Demikian pulalah Polopadang tetap tinggal di wilayah Kesu' dengan bergelar "Siambe' Sikombi' Kandian Saratu'" dengan tugas "Pemelihara dan Pembina peraturan-peraturan dan hukum-hukum masyarakat."


Bagikan :

The Story of Lebonna, Paerengan, and Dodeng

· · , , , , , , , , ,

category : Tale & Folklore


Long ago, in a village, there lived a very wealthy man whose life was prosperous and abundant. He was blessed with several children by the divine.

In this family, a daughter was born named Lebonna, whose beauty was extraordinarily captivating. Her face shone brightly and radiated charm. She was so beautiful that anyone who saw her would be enchanted. Moreover, no one could compare to her in kindness and character. Because of this, she became a role model and was known even beyond her village.

In the village where Lebonna lived, there were two handsome young men named Dodeng and Paerengan.

Paerengan - Lebonna - Dodeng

Both intended to formally propose marriage to Lebonna.

One day, when Lebonna heard about their intentions, she said:

“These two young men are equally handsome, equally kind, and equally noble.”

However, the first to come with a formal marriage proposal was Dodeng. Unfortunately, his proposal was not accepted by Lebonna. Yet she did not want to reject him directly. Instead, she entrusted the decision to her parents, saying:

“This young man has expressed his intention, but I cannot decide on my own. I am afraid of being disobedient to my parents.”

Dodeng conveyed Lebonna’s words to his parents. Soon after, his parents went to Lebonna’s family, bringing a pangngan (betel chewing set) as part of a formal marriage proposal, to find out whether it would be accepted.

However, on the third night, when they returned to receive the answer, they found that the pangngan they had brought had not been opened. This was a sign that the proposal had not been accepted. Therefore, they took it back home. From that moment on, Dodeng felt ashamed and deeply disappointed.

When Paerengan heard that Dodeng’s proposal had been rejected, he decided to come forward as well. He asked his family to formally propose on his behalf, and they went to Lebonna’s house bringing their own pangngan.

When Lebonna’s parents asked her about Paerengan’s proposal, she smiled with joy and said happily:

“This is the one who perfectly complements my beloved sarong.” 

Her parents were delighted and opened the pangngan. Once it was confirmed that the proposal had been accepted, the requirements for marriage were established. It was decided that Paerengan must provide a bridewealth equivalent to twelve buffaloes.

After their marriage, they lived happily together. Then Paerengan made a vow to his beloved, his soulmate:

If one of us dies, the other will follow. We shall never be seperated, even in the grave."

In their married life, they never quarreled. Their home was blessed, and they were kind and welcoming to others—gentle and patient. Because of this, they became role models in their village.

However, there was someone who harbored resentment upon seeing their happiness—Dodeng. He had long been hurt by Lebonna’s rejection. When Paerengan’s proposal was accepted, his resentment grew into hatred, and an evil plan began to form in his heart.

One day, their village was attacked by outsiders. All the villagers agreed to go and defend their land.

When the warriors were ready to depart, Paerengan stepped forward to encourage and strengthen them.

Meanwhile, Dodeng deliberately joined the war, hoping that if Lebonna became a widow, she would eventually accept him.

The war did not last long. They succeeded in driving away the enemy, and Paerengan and his companions returned safely. Dodeng fell into despair, as his hopes were not fulfilled. A wicked intention then arose in his heart—one that would lead Lebonna and Paerengan toward death.

Before the warriors returned, Dodeng ran ahead to Lebonna’s house.

When Lebonna met him, she asked about the war.

Dodeng replied that they had been defeated and many had died. He claimed that Paerengan had been among the first to die, brutally killed in battle, and that only fragments of his body had been brought back.

After saying this, Dodeng immediately left.

After he departed, Lebonna remembered her vow with Paerengan:

If one of us dies, the other will follow. We shall never be seperated, even in the grave."

Because of this vow, and deceived by Dodeng’s lie, Lebonna took her own life.

Not long after, Paerengan arrived home. Tears flowed endlessly when he found Lebonna already dead.

“Her breath had ceased; the thread of her life was broken.”

Paerengan was shocked and lost consciousness. The entire village was shaken. People cried out loudly, and silence fell upon the land. Lebonna had left them, returning to her ancestors and to her Creator.

Paerengan did not know the cause of her death.

Lebonna was given funeral rites according to the customary tradition (aluk rampe matampu’), and she was laid to rest in a place called Kayu Mati, suspended upon a cliff.

Below the rocky cliff stood a large palm tree, commonly tapped for its sap.

After the mourning period had passed, Dodeng went to the tree near Lebonna’s grave to collect sap. While tapping the tree, he heard a faint voice:

Dodeng is tapping palm sap

“Dodeng who is tapping, put down your stick, set aside your tools, and listen carefully. Deliver my message to Paerengan. He said we would live and die together, yet I died first, and he has not followed. Where is the fulfillment of that promise? It has become nothing but forgotten words.”

After hearing the entire message, Dodeng went straight to Paerengan’s house to deliver it.

Paerengan was shocked and remembered his vow. He said:

“Call me when you go there again.”

When Dodeng returned to collect sap, he informed Paerengan, who followed him.

As Dodeng tapped the tree, the same voice was heard again.

Paerengan himself heard it—the voice of Lebonna, his soulmate.

He said:

“I am filled with longing hearing this sorrowful voice. A true word must be fulfilled. Let us fulfill our promise and bring this matter to an end.”

Paerengan returned home and prepared himself as if for a long journey. He ate the finest food, dressed himself completely, mounted his buffalo, and rode toward a high cliff, throwing himself into the abyss together with the buffalo. (Some versions say he leapt from the roof of his house or from a tall tree.)

When Paerengan died, the entire village was shaken. They said:

“Our pillar has fallen; our protector is gone.”

He was given funeral rites and buried in a different place from Lebonna.

After both were buried, something strange occurred. Worms emerged from their graves and moved toward each other—those from Paerengan’s grave went toward Lebonna’s, and those from Lebonna’s moved toward Paerengan’s.

The elders were frightened, as they had never witnessed such a thing. They did not understand the cause.

They discussed among themselves, and the village leaders gathered to deliberate the meaning of this sign.

Dodeng was also present. After many had spoken, he said:

“This is nothing other than the result of the vow made by Lebonna and Paerengan at the beginning of their marriage.”

The villagers asked whether such a vow truly existed.

Dodeng replied:

“That is why Paerengan took his own life—to fulfill that vow. Since Lebonna died first and Paerengan did not follow immediately, her spirit came to remind him.”

He continued:

“In my opinion, this sign will cease if their bodies are united in one grave.”

All agreed that this was the right solution. They moved Paerengan’s body to Lebonna’s grave.

After the two were united, the worms disappeared into the grave where both were laid—because the promise they had made had finally been fulfilled.

 


This story carries a profound meaning: that the Torajan people of the past held firmly to their commitments—steadfastness, humility, loyalty, sincerity, and honesty toward their partners.


Translated by Pentong from the original Toraja-language story, "PUAMANNA LEBONNA SOLA PAERENGAN NA DODENG" 

 

 👉  also read folklore of :

Polopadang And Deatanna [English Version] - (Part 1) Polopadang And Deatanna [English Version] - (Part 2)



Bagikan :

2.5.26

Kisah Lebonna, Paerengan, dan Dodeng: Janji yang Mengikat Kematian

· · , , , , , ,

Kategori : Cerita Rakyat

 

Di sebuah lembah sunyi di tanah Toraja, ketika adat masih menjadi nafas kehidupan dan janji lebih kuat dari maut, hiduplah seorang gadis yang kecantikannya melampaui cerita—Lebonna.

Ia bukan hanya elok dipandang, tetapi juga halus budi dan lembut hati. Namanya melintasi batas kampung, menjadi sebutan dalam percakapan orang-orang jauh. Ia adalah cahaya—dan seperti semua cahaya, ia menarik banyak mata.

Di antara banyak yang datang, berdirilah dua pemuda: Dodeng dan Paerengan.

Paerengan - Lebonna - Dodeng

Keduanya sama-sama tegap, sama-sama pantas, sama-sama membawa hati yang penuh harap. Namun hati manusia tidak pernah benar-benar terbagi dua.

Ketika Dodeng datang lebih dahulu, membawa niat yang tulus, Lebonna tidak menolaknya secara langsung. Ia memilih diam di balik bakti kepada orang tua—sebuah cara halus untuk menolak tanpa melukai.

Dan ketika tanda lamaran itu tak pernah dibuka, Dodeng pun mengerti. Ia pulang bukan hanya dengan tangan kosong, tetapi dengan hati yang runtuh perlahan.

Tak lama berselang, Paerengan datang. Dan kali ini, Lebonna tersenyum. “Dialah yang serasi dengan hidupku,” begitu kira-kira bahasa hatinya, yang bahkan tak mampu lagi ia sembunyikan.

Lamaran diterima. Upacara dilangsungkan. Kerbau-kerbau dikorbankan, adat dipenuhi, dan dua jiwa dipersatukan.

Namun di tengah kebahagiaan itu, Paerengan mengucapkan sesuatu yang tidak biasa—sebuah janji yang lebih berat dari cinta itu sendiri:

“Jika salah satu dari kita mati, maka yang lain harus mengikuti. Kita tidak akan terpisah, bahkan dalam kubur.”

Janji itu tidak dipertanyakan. Tidak juga ditertawakan. Karena pada masa itu, kata adalah kehormatan. Dan janji—adalah kehidupan itu sendiri.

Hari-hari mereka berlalu dengan damai. Rumah mereka hangat. Hidup mereka lurus. Mereka menjadi teladan bagi kampung—tentang bagaimana cinta seharusnya dijalani.

Namun tidak semua hati ikut bahagia. Di sudut gelap, Dodeng menyimpan sesuatu yang tak pernah benar-benar padam. Ia bukan lagi sekadar kecewa—ia telah berubah menjadi sunyi yang pahit.

Ketika melihat Lebonna hidup bersama Paerengan, sesuatu dalam dirinya perlahan mengeras.

Suatu hari, perang datang. Kampung mereka diserang. Para lelaki dipanggil untuk membela tanah mereka. Paerengan berdiri di depan, memberi semangat, memimpin dengan keberanian.

Dodeng ikut. Namun bukan untuk berjuang—melainkan untuk menunggu. Menunggu takdir berpihak padanya dengan cara yang paling gelap.

Perang usai. Kampung selamat. Paerengan masih hidup. Dan di situlah harapan terakhir Dodeng runtuh. Namun kali ini, ia tidak menyerah. Ia memilih jalan lain.

Dodeng berlari lebih dulu pulang. Ia menemui Lebonna yang menunggu dengan cemas. “Bagaimana perang?” tanya Lebonna. Dodeng menjawab dengan suara yang tenang—terlalu tenang untuk sebuah kabar buruk:

Bahwa mereka kalah. Bahwa banyak yang mati. Bahwa Paerengan… adalah yang pertama gugur. Dan yang tersisa… hanyalah potongan tubuhnya.

Setelah itu, Dodeng pergi. Seolah ia hanya pembawa kabar. Padahal ia baru saja menjadi pencipta takdir.

Sunyi menyelimuti Lebonna. Dunia seketika kehilangan makna. Dan di dalam kehancuran itu, ia teringat satu hal—janji. Janji yang tak pernah ia sangkal.

Jika satu mati, yang lain harus mengikuti.

Tanpa ragu, tanpa menunggu, Lebonna memilih menepati janjinya. Ia mengakhiri hidupnya.

Tidak lama kemudian, Paerengan pulang. Ia masih hidup. Namun semua sudah terlambat. Ia menemukan Lebonna terbujur kaku. Tangisnya pecah. Dunia yang ia bangun runtuh dalam sekejap.

Dan saat itulah ia tahu—tanpa perlu diberi tahu—bahwa janji itu telah menagih bagiannya. Lebonna dimakamkan sesuai adat, di liang batu yang sunyi.

Waktu berlalu.

Hingga suatu hari, Dodeng datang ke tempat itu. Di bawah pohon nira, ia melakukan pekerjaannya seperti biasa. Namun di antara bunyi ketukan, ia mendengar sesuatu—  

Dodeng sedang mangrambi mayang

Sebuah suara. Lembut, namun menembus. Itu adalah Lebonna. Ia tidak marah. Tidak juga menyalahkan. Ia hanya mengingatkan. Bahwa janji belum selesai. Bahwa Paerengan belum datang. Bahwa cinta mereka belum lengkap.

Dodeng mendengarkan. Dan kali ini—ia tidak berbohong. Pesan itu sampai kepada Paerengan. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami arti dari kata yang pernah ia ucapkan sendiri.

Ia tidak menolak. Ia tidak mencari jalan lain. Ia hanya bersiap. Seperti seseorang yang akhirnya menerima takdirnya sendiri. Dengan penuh kesadaran, Paerengan mengakhiri hidupnya. Ia menyusul Lebonna.

Namun bahkan setelah kematian, dunia belum selesai dengan mereka. Ketika keduanya dimakamkan terpisah, terjadi sesuatu yang tak pernah dilihat sebelumnya— Belatung dari kedua kubur bergerak, saling mencari, saling mendekat. Seolah tubuh mereka sendiri menolak dipisahkan.

Orang-orang ketakutan. Tetua berkumpul. Dan akhirnya, Dodeng—berbicara: Bahwa semua ini adalah akibat dari janji. Dan satu-satunya cara untuk menghentikannya… adalah dengan menyatukan mereka.

Maka dilakukanlah itu. Dua tubuh yang terpisah akhirnya dipertemukan kembali dalam satu liang. Dan sejak saat itu—semuanya kembali tenang.

Tidak ada lagi tanda-tanda aneh. Tidak ada lagi kegelisahan. Janji itu telah dipenuhi.__

 

Di tanah Toraja, kisah ini terus hidup. 

Tentang cinta yang setia.
Tentang janji yang tak bisa ditarik kembali.
Dan tentang satu orang—yang karena cintanya yang tak terbalas, mengubah jalan hidup banyak orang.

Sebab terkadang, tragedi terbesar bukan datang dari kebencian,
melainkan dari cinta… yang tidak pernah menemukan tempatnya. 

 

Bagikan :